KOMUNIKASI PADA ANAK AUTISME

                         Abstract

This study aims to determine the effectiveness of Glenn Doman method stages 1 and 2 on the development of autistic children’s thinking in autis center Bengkulu.The research design was quasi experiment using two group before after or pre test and post test design group. The result showed that in univariate analysis, it was found that the majority male with speech ability in control group and treatment group is quite capable before being treaten through Glenn Doman theraphy stage 1 and 2. Then the development of the majority treatment group is increasing to capable. In bivariate analysis, it was found out that there was a significant effect of Glenn Doman therapy stage 1 and 2 on the development of autism children communication in autis centre Bengkulu with value p 0,000 < 0,0Considering the importance of the development of children communication, especially children with autism, autism center Bengkulu is willing improve the method of Glenn Doman stages 1 and 2 in the process of education for children with autism.

A.    Defenisi
Istilah autis berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme berarti aliran. Jadi autisme adalah suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri (Purwati, 2007).
Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada bayi atau anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Gangguan autis adalah salah satu perkembangan pervasif berawal sebelum usia 2,5 tahun (Devision, 2006).

B.     Etiologi
Autisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di bawah ini adalah faktor – faktor yang menyebabkan terjadinya autis menurut Kurniasih (2002) diantaranya yaitu:
1.      Faktor Genetik
Faktor pada anak autis, dimungkinkan penyebabnya adanya kelainan kromosom yang disebutkan syndrome fragile – x (ditemukan pada 5-20% penyandang autis).
2.      Faktor Cacat (kelainan pada bayi)
Disini penyebab autis dapat dikarenakan adanya kelainan pada otak anak, yang berhubungan dengan jumlah sel syaraf, baik itu selama kehamilan ataupun setelah persalinan, kemudian juga disebabkan adanya Kongenital Rubella, Herpes Simplex Enchepalitis, dan Cytomegalovirus Infection.
3.      Faktor Kelahiran dan Persalinan
Proses kehamilan ibu juga salah satu faktor yang cukup berperan dalam timbulnya gangguan autis, seperti komplikasi saat kehamilan dan persalinan. Seperti adanya pendarahan yang disertai terhisapnya cairan ketuban yang bercampur feces, dan obat-obatan ke dalam janin, ditambah dengan adanya keracunan seperti logam berat timah, arsen, ataupun merkuri yang bisa saja berasal dari polusi udara, air bahkan makanan.
Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

C.    Patofisiologi
Penyebab pasti dari autisme belum diketahui. Yang pasti diketahui adalah bahwa penyebab dari autisme bukanlah salah asuh dari orang tua,  beberapa penelitian membuktikan bahwa beberapa penyebab autisme adalah ketidakseimbangan biokimia, faktor genetic dan gangguan imunitas tubuh. Beberapa kasus yang tidak biasa disebabkan oleh infeksi virus (TORCH), penyakit- penyakit lainnya seperti fenilketonuria (penyakit kekurangan enzim), dan sindrom X (kelainan kromosom).
Menurut Lumbantobing (2000), penyebab autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
  1. Faktor keluarga dan psikologi
Respon anak-anak terhadap stressor dari keluarga dan lingkungan.
  1. Kelainan organ-organ biologi dan neurologi (saraf)
Berhubungan dengan kerusakan organ dan saraf yang menyebabkan gangguan fungsi-fungsinya, sehingga menimbulkan keadaan autisme pada penderita
  1. Faktor genetik
Pada hasil penelitian ditemukan bahwa 2 -  4% dari saudara kandung juga menderita penyakit yang sama.
  1. Faktor kekebalan tubuh

D.    Manisfestasi Klinik
1.      Di bidang komunikasi :
a.       Perkembangan bahasa anak autis lambat atau sama sekali tidak ada. Anak nampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara lalu kemudian hilang kemampuan bicara.
b.      Terkadang kata – kata yang digunakan tidak sesuai artinya.
c.       Mengoceh tanpa arti secara berulang – ulang, dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain.
d.      Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi. Senang meniru atau membeo (Echolalia).
e.       Bila senang meniru, dapat menghafal kata – kata atau nyanyian yang didengar tanpa mengerti artinya.
f.       Sebagian dari anak autis tidak berbicara (bukan kata – kata) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa.
g.      Senang menarik – narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu.
2.      Di bidang interaksi sosial :
a.       Anak autis lebih suka menyendiri
b.      Anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain atau menghindari tatapan muka atau mata dengan orang lain.
c.       Tidak tertarik untuk bermain bersama dengan teman, baik yang sebaya maupun yang lebih tua dari umurnya.
d.      Bila diajak bermain, anak autis itu tidak mau dan menjauh.
3.      Di bidang sensoris :
a.       Anak autis tidak peka terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.
b.      Anak autis bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
c.       Anak autis senang mencium –cium, menjilat mainan atau benda – benda yang ada disekitarnya. Tidak peka terhadap rasa sakit dan rasa takut.
4.      Di bidang pola bermain :
a.       Anak autis tidak bermain seperti anak – anak pada umumnya.
b.      Anak autis tida suka bermain dengan anak atau teman sebayanya.
c.       Tidak memiliki kreativitas dan tidak memiliki imajinasi.
d.      Tidak bermain sesuai fungsinya, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar – putar.
e.       Senang terhadap benda – benda yang berputar seperti kipas angin, roda sepeda, dan sejenisnya.
f.       Sangat lekat dengan benda – benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana – mana.
5.      Di bidang perilaku :
a.       Anak autis dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif (hiperaktif) dan berperilaku berkekurangan (hipoaktif).
b.      Memperlihatkan perilaku stimulasi diri atau merangsang diri sendiri seperti bergoyang –goyang, mengepakkan tangan seperti burung.
c.       Berputar –putar mendekatkan mata ke pesawat televisi, lari atau berjalan dengan bolak – balik, dan melakukan gerakan yang diulang – ulang.
d.      Tidak suka terhadap perubahan.
e.       Duduk bengong dengan tatapan kosong.
6.      Di bidang emosi :
a.       Anak autis sering marah – marah tanpa alasan yang jelas, tertawa – tawa dan
b.      Dapat mengamuk tak terkendali jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya.
c.       Kadang agresif dan merusak.
d.      Kadang – kadang menyakiti dirinya sendiri.
e.       Tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain yang ada disekitarnya atau didekatnya.

E.     Klasifikasi
Berdasarkan waktu munculnya gangguan, Kurniasih (2002) membagi autisme menjadi dua yaitu:
1.      Autisme sejak bayi (Autisme Infantil)
Anak sudah menunjukkan perbedaan-perbedaan dibandingkan dengan anak non autistik, dan biasanya baru bisa terdeteksi sekitar usia bayi 6 bulan.
2.      Autisme Regresif
Ditandai dengan regresif (kemudian kembali) perkembangan kemampuan yang sebelumnya jadi hilang. Yang awalnya sudah sempat menunjukkan perkembangan ini berhenti. Kontak mata yang tadinya sudah bagus, lenyap. Dan jika awalnya sudah bisa mulai mengucapkan beberapa patah kata, hilang kemampuan bicaranya. (Kurniasih, 2002).
Sedangkan Yatim, Faisal Yatim (dalam buku karangan purwati, 2007) mengelompokkan autisme menjadi :
a.       Autisme Persepsi
Autisme ini dianggap sebagai autisme asli dan disebut autisme internal karena kelainan sudah timbul sebelum lahir
b.      Autisme Reaksi
Autisme ini biasanya mulai terlihat pada anak – anak usia lebih besar (6 – 7 tahun) sebelum anak memasuki tahap berfikir logis. Tetapi bisa juga terjadi sejak usia minggu – minggu pertama. Penderita autisme reaktif ini bisa membuat gerakan – gerakan tertentu berulang – ulang dan kadang – kadang disertai kejang – kejang.

F.     Faktor Resiko
Karena penyebab Autis adalah multifaktorial sehingga banyak faktor yang mempengaruhi.Sehingga banyak teori penyebab yang telah diajukan oleh banyak ahli. Hal ini yang menyulitkan untuk memastikan secara tajam faktor resiko gangguan autis. Faktor resiko disusun oleh para ahli berdasarkan banyak teori penyebab autris yang telah berkembang. Terdapat beberapa hal dan keadaan yang membuat resiko anak menjadi autis lebih besar. Dengan diketahui resiko tersebut tentunya dapat dilakukan tindakan untuk mencegah dan melakukan intervensi sejak dini pada anak yang beresiko. Adapun beberapa resiko tersebut dapat diikelompokkan dalam beberapa periode, seperti periode kehamilan, persalinan dan periode usia bayi.

PERIODE KEHAMILAN
Perkembangan janin dalam kehamilan sangat banyak yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dan perkembangan otak atau sistem susunan saraf otak sangat pesat terjadi pada periode ini, sehingga segala sesuatu gangguan atau gangguan pada ibu tentunya sangat berpengaruh. Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme.

PERIODE PERSALINAN
Persalinan adalah periode yang paling menentukan dalam kehidupan bayi selanjutnya. Beberapa komplikasi yang timbul selama periode ini sangat menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan. Bila terjadi gangguan dalam persalinan maka yang paling berbahaya adalah hambatan aliran darah dan oksigen ke seluruh organ tubuh bayi termasuk otak. Organ otak adalah organ yang paling sensitif dan peka terhadap gangguan ini, kalau otak terganggu maka sangat mempengaruhi kualitas hidup anak baik dalam perkembangan dan perilaku anak nantinya. Gangguan persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah : pemotongan tali pusat terlalu cepat, Asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah < 6 ), komplikasi selama persalinan, lamanya persalinan, letak presentasi bayi saat lahir dan erat lahir rendah ( < 2500 gram).

PERIODE USIA BAYI
Dalam kehidupan awal di usia bayi, beberapa kondisi awal atau gangguan yang terjadi dapat mengakibatkan gangguan pada optak yang akhirnya dapat beresiko untuk terjadinya gangguan autism. Kondisi atau gangguan yang beresiko untuk terjadinya autism adalah prematuritas, alergi makanan, kegagalan kenaikan berat badan, kelainan bawaan : kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, kelainan metabolik, gangguan pencernaan : sering muntah, kolik, sulit buang air besar, sering buang air besar dan gangguan neurologI/saraf : trauma kepala, kejang, otot atipikal, kelemahan otot.

G.    Penatalaksanaan
Terapi yang dilakukan untuk anak dengan autisme
1)      Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2)      Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang , namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.
Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3)      Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot2 halusnya dengan benar.
4)      Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.
Kadang2 tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot2nya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5)      Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.
6)      Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7)      Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
8)      Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9)      Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange
Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10)  Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
Tatalaksana autis dibagi menjadi 2 bagian
1.      Edukasi kepada keluarga
Keluarga memerankan peran yang penting dalam membantu perkembangan anak, karena orang tua adalah orang terdekat mereka yang dapat membantu untuk belajar berkomunikasi, berperilaku terhadap lingkungan dan orang sekitar, intinya keluarga adalah jendela bagi penderita untuk masuk ke dunia luar, walaupun diakui hal ini bukanlah hal yang mudah.

2.      Penggunaan obat-obatan
Penggunaan obat-obatan pada penderita autisme harus dibawah pengawasan dokter. Penggunaan obat-obatan ini diberikan jika dicurigai terdapat kerusakan di otak yang mengganggu pusat emosi dari penderita, yang seringkali menimbulkan gangguan emosi mendadak, agresifitas, hiperaktif dan stereotipik. Beberapa obat yang diberikan adalah Haloperidol (antipsikotik), fenfluramin, naltrexone (antiopiat), clompramin (mengurangi kejang dan perilaku agresif)

Dalam suatu Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode glenn doman tahap 1 dan 2 terhadap perkembangan komunikasi berfikir anak autisme di Autis Center Bengkulu. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experiment, dengan rancangan yang digunakan adalah two group before after atau pre-test and post test group design. Sampel penelitian ini berjumlah 30 orang anak yang di bagi dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Sampel diambil dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada analisa univariat diketahui mayoritas usia responden 3-4 tahun dengan jenis kelamin mayoritas laki-lak dengan kemampuan bicara pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan sebelum diberi terapi glenn doman tahap 1 dan 2 adalah cukup mampu. Dan perkembangan komunikasi pada kelompok perlakuan mayoritas meningkat menjadi mampu. Pada analisa bivariat diketahui ada pengaruh signifikan terapi glenn doman tahap 1 dan 2 terhadap perkembangan komunikasi anak autisme di Autis Center Bengkulu dengan nilai p v 0,000 < 0,05. Mengingat pentingnya perkembangan komunikasi pada anak khususnya anak autisme maka hendaknya pihak Autis Center Bengkulu meningkatkan metode glenn doman tahap 1 dan 2 dalam proses pendidikan anak autisme.

dengan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada analisa univariat diketahui mayoritas usia responden 3-4 tahun dengan jenis kelamin mayoritas laki-laki dengan kemampuan bicara pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan sebelum diberi terapi glenn doman tahap 1 dan 2 adalah cukup mampu. Dan perkembangan komunikasi pada kelompok perlakuan mayoritas meningkat menjadi mampu.



Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa sebagian besar anak autisme pada kelompok perlakuan (46,7%) atau 7 orang responden berusia 4 tahun, hampir sebagian (40%) atau 6 orang berusia 6 tahun dan hanya sebagian kecil (13,3%) atau 2 orang yang berusia 5 tahun. Sedangkan pada kelompok kontrol diketahui hampir sebagian (46,7%) responden berusia 3 tahun, anak autisme yang berusia 4 tahun sebanyak 33,3%, berusia 5 tahun sebanyak 13,3% dan anak autisme berusia 2 tahun sebanyak 6,7%.
Karakteristik responden pada penelitian ini menurut jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut ini :


Berdasarkan pada tabel diatas diketahui bahwa pada penelitian ini jenis kelamin pada kelompok perlakuan sebagian besar (80%) atau 12 orang responden berjenis kelamin laki-laki dan hanya sebagian kecil (20%) atau 3 orang berjenis kelamin perempuan. Sedangkan pada kelompok kontrol diketahui sebagian besar (60%) anak autisme berjenis kelamin laki-laki dan sisanya 40% berjenis kelamin perempuan.


Berdasarkan tabel diatas diketahui rata-rata kemampuan bicara anak-anak autis sebelum diberi terapi Glenn Doman tahap 1 dan 2 adalah sebesar 14,53 dan setelahmendapatkan terapi Glenn Doman tahap 1 dan 2, kemampuan bicara anak autis mengalami peningkatan menjadi 24,07. Sedangkan pada kelompok kontrol  mengalami peningkatan dari 8,67 menjadi 8,87 Untuk mengetahui adakah pengaruh signifikan antara dua variabel, dan untuk mengetahui perbedaan mean antara sebelum dan sesudah terapi glenn doman pada masing masing kelompok perlakuan dan kelompok kontrol maka dilakukan uji T-Test dependen, namun terlebih dahulu dilakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data pada penelitian ini  mengguakan shapiro wilk- test,uji ini dilakukan karena sampel yang di teliti kurang dari atau sama dengan 50 (Sopiyuddin,2014).


Berdasarkan tabel diatas diketahui rata-rata kemampuan bicara anak-anak autis sebelum diberi terapi Glenn Doman tahap 1 dan 2 adalah sebesar 14,53 dan setelah mendapatkan terapi Glenn Doman tahap 1 dan 2, kemampuan bicara anak autis mengalami peningkatan menjadi 24,07. Sedangkan pada kelompok kontrol  mengalami peningkatan dari 8,67 menjadi 8,87 Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai p 0,000 pada kelompok perlakuan dan 0,467 pada kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kemampuan komunikasi antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.


Berdasarkan tabel diatas diketahui rata-rata kemampuan bicara anak-anak autis yang diberi terapi Glenn Doman( kelompok perlakuan ) tahap 1 dan 2 adalah 9,53 dan kelompok kontrol atau kelompok yang tidak di berikan terapi Glenn Doman tahap 1 dan 2 nilai rata ratanya adalah 0,20.Berdasarkan tabel di atas pada kelompok perlakuan dan pada kelompok kontrol memiliki nilai p 0,000. Karena p value lebih kecil dari 0,05 makaDapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kemampuan komunikasi antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.


DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Aris, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius : Jakarta
Ngastiyah, 1997. Perawatan Anak Sakit. Buku Kedokteran EGC : Jakarta

Wahyu, H., Betrianita, B., Pramesti, M., & Padila, P. (2018). PENGARUH METODE GLENN DOMAN (TAHAP 1 DAN 2) TERHADAP PERKEMBANGAN KOMUNIKASI ANAK AUTISME DI AUTIS CENTER BENGKULU. Jurnal Keperawatan Silampari, 2(1), 169-183. https://doi.org/https://doi.org/10.31539/jks.v2i1.306<a href="http://https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/JKS/article/view/306"></a>

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satuan Acara Penyuluhan Dyspepsia

SAP VERTIGO

LAPORAN PENDAHULUAN KEJANG DEMAM